Lebak – Nama – nama bakal calon bupati Lebak yang telah muncul menjadi perbincangan di tengah publik dan mendaftar ke partai politik (parpol) sepertinya mulai mengerucut ke beberapa figur.
Meski begitu, beberapa partai politik diprediksi baru akan menentukan siapa pasangan calon bupati dan calon wakil bupati yang diusung untuk mengikuti kontestasi Pilkada yang akan digelar pada 27 November 2024 nanti.
Pada tanggal 25 sampai 30 Juni 2024, lembaga survei Paradigma Indonesia melakukan survei Pilbup Lebak untuk memotret opini dan preferensi publik seputar calon bupati dan wakil Bupati.
Survei dilakukan dengan mewawancarai 440 responden yang berumur 17 tahun atau lebih atau yang sudah menikah.
Sampel dipilih secara acak bertingkat
(multistage random sampling) dan terdistribusi secara proporsional di seluruh wilayah populasi. Diperkirakan margin of error kurang lebih 4,8% pada tingkat kepercayaan 95%.
Lalu seperti apa peta kekuatan nama-nama calon bupati yang sejauh ini beredar? Siapa sosok yang dianggap paling pantas? atau bahkan ada calon alternatif yang memliki kan kemenangan dan seberapa besar peluang keterpilihannya?
Dari belasan calon yang muncul, elektabilitas nama Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya yang paling tinggi di antara seluruh calon. Ia berada di angka 24,5 persen pada pertanyaan terbuka dan 30,2 persen pada pertanyaan semi terbuka.
“Sebanyak 21,1 persen pemilih yang disurvei menilai Hasbi mampu mengatasi masalah ekonomi, lalu 17,3 persen memilih karena berasal dari keluarga tokoh politik, putra daerah 18,8 persen, dan berwibawa 12 persen,” kata Direktur Paradigma Indonesia, Zulfian Hanif saat konferensi pers, di Lebak, Senin, 8 Juli 2024.
Tingkat popularitas politisi PDI Perjuangan ini juga tertinggi di antara calon lainnya. Level keterkenalan Hasbi hampir mencapai 75 persen, dan disukai oleh 66 persen.
Sementara calon lain yang menjadi rival Hasbi dipilih karena tokoh agama oleh 59 persen pemilih jatuh adalah KH. Syaepudin AsySyadzily yakni di angka 8,4 persen.
“Figur tokoh agama ini merupakan satu-satunya penilaian terbesar pemilih
pada KH. Syaepudin Asy-Syadzily,” ujar Zulfian.
Kemudian calon lainnya adalah Faizal Hermiansyah dan Sanuji Pentamarta. Masing-masing mendapatkan 4,5 persen. Kedua figur ini memiliki kontribusi penilaian berbeda dari pemilih.
Faizal mendapatkan kontribusi luar biasa besar dari pemilih yang menilai sebagai orang yang berwibawa 45 persen dan berjiwa sosial 20 persen.
Sementara Sanuji mendapatkan kontribusi penilaian dari pemilih sebagai orang yang jujur 16,7 persen, dan dianggap mampu mengatasi masalah ekonomi 11,1 persen.
Level keterkenalan Hasbi hampir mencapai puncakn 75 persen dan disukai oleh 66 persen. Sementara, KH. Syapudin Asy-Syadzily, Faizal Hermiansyah dan Sanuji Pentamarta berada masih di bawah 35 persen.
“Akan tetapi, dengan hampir tingginya tingkat kedikenalan Hasbi tidak berbanding lurus dengan elektoral yang masih di bawah 50 persen.
Dari temuan survei Paradigma, pemilih yang telah memiliki pilihan pada pilkada Lebak cukup yakin dengan pilihannya sebanyak 64 persen, dan sekitar 29 persen yang mungkin berubah.
“Alasan perubahan didominasi oleh masih menunggu program dari masing-masing calon 25% persen. Sementara meraka yang tidak akan berubah karena merasa sudah mantap dengan pilihannya sebanyak 31 persen,” ungkap Zulfian.
Dari pemilih yang masih ragu atau belum memutuskan pilihan, sosok Hasbi dipandang pantas untuk menjadi bupati Lebak dengan perolehan dukungan sebesar 21,7 persen disusul oleh KH. Syaepudin Asy-Syadizili 14,2 persen, Faizal Hermiansyah 6,9 persen dan Sanuju Pentamarta 6,3 persen.(Den)







