Lebak – Gebyar Kolaborasi Lebak Atasi Stunting, Inflasi, dan Kemiskinan Ekstrem (KLASIK) kembali dilakukan di Kabupaten Lebak, Banten.
Pelaksanaan yang kali kedua ini menandai komitmen kuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak dalam memerangi tiga isu krusial yang dihadapi masyarakat yakni penanganan stunting, inflasi dan masyarakat dengan kategori miskin ekstrem.
Gebyar Klasik serentak digelar 25 Juli 2024 di enam kecamatan prioritas yakni Kecamatan Warunggunung, Cikulur, Cileles, Sajira, Kalanganyar dan Curugbitung. Ada sebanyak 24 desa yang menjadi lokasi khusus stunting dan kemiskinan ekstrem.
Acara tersebut menjadi wadah sinergi antar elemen. Pasalnya, tidak kurang dari 25 lembaga mulai dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pengusaha, hingga masyarakat luas terlibat.
“Fokus utama Gebyar Klasik 2024 yaitu penurunan angka stunting, pengendalian inflasi dan penanggulangan kemiskinan ekstrem,” kata Pj Bupati Lebak Iwan Kurniawan.
Penurunan angka stunting dilakukan melalui intervensi gizi spesifik dan sensitif dengan berbagai program, seperti edukasi gizi, pemberian makanan tambahan, dan pendampingan keluarga balita stunting.
Kegiatan yang dilaksanakan diantaranya aksi bergizi bagi remaja putri seminggu sekali di sekolah, dengan jumlah sasaran sebanyak 224.816 orang.
Aksi bergizi terdiri dari aktifitas olahraga (senam bersama), sarapan bersama dengan menu tinggi protein, minum tablet tambah darah, dan edukasi; Skrining anemia untuk remaja putri jenjang smp dan sma; pemeriksaan kehamilan, pemberian tablet tambah darah, pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil kek dengan jumlah sasaran sebanyak 24.448 orang; pemantauan pertumbuhan di seluruh posyandu dan fasyankes, pemberian ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan dengan jumlah sasaran sebanyak 21.583 bayi dan 107.393 balita.
Kemudian pengendalian inflasi dilakukan melalui upaya yang dilakukan antara lain pasar murah yang diselenggarakan di 28 kecamatan sebanyak 30 ribu paket, yang diampu oleh Dinas Perindustian dan Perdagangan; Gerakan pangan murah yang di selenggarakan pada 4 kecamatan yang dibiayai APBN dan 2 kegiatan gerakan pangan murah yang dibiayai oleh APBD dengan 11 komoditas yang diampu oleh dinas ketahanan pangan; melakukan monitoring harga dan ketersediaan barang kebutuhan pokok dengan tujuan pengendalian harga, dan stok barang kebutuhan pokok dan barang penting di tingkat pasar kabupaten; meningkatkan produksi daging melalui pengelolaan sumber daya genetik (SDG) hewan, tumbuhan, dan mikro organisme kewenangan kabupaten/kota dan pelaksanaan penyuluhan pertanian; monev ketersediaan pasokan pangan; Pengembangan lumbung pangan (food estate) melalui peningkatan produksi hortikultura sayuran; serta Penguatan cadangan pangan pemerintah.
Lalu untuk penanggulangan kemiskinan ekstrem, Pemkab Lebak memiliki tiga strategi utama yaitu pengurangan beban pengeluaran; peningkatan pendapatan masyarakat; dan pengurangan kantong-kantong kemiskinan.
Adapun bentuk kegiatannya antara lain bantuan tunai bagi penyandang disabilitas sebanyak 4.239 orang; fasilitasi rumah singgah bagi 180 orang keluarga pasien rujukan; pemberian bantuan kursi roda untuk disabilitas sebanyak 5 orang; paket permakanan untuk pasien ODGJ di Bani Syifa, dan stok permakanan untuk Rumah Singgah Rangkasbitung dan Jakarta sebanyak 320 orang; paket sandang untuk disabilitas terlantar, anak terlantar, lanjut usia terlantar serta gelandangan pengemis dan masyarakat di luar panti sebanyak 60 orang; paket permakanan / alat kontak respon terdiri dari biskuit anak, biskuit, madu, susu kaleng, susu UHT kotak pada lembaga kesejahteraan sosial; paket permakanan untuk korban bencana di 28 kecamatan; layanan kesehatan pada 43 puskesmas; pemberian dana Bantuan Operasional Sekolah bagi 817 PAUD, 778 SD dan 225 SMP; peningkatan jalan kabupaten serta jalan strategis desa.
“Kolaborasi yang sudah dilakukan sudah memberikan dampak dalam penurunan inflasi Kabupaten Lebak menjadi 1,37% pada bulan Juni, terendah se-provinsi Banten. Selain itu berdasarkan pengukuran dan intervensi serentak pencegahan stunting pada bulan juni, angka prevalensi stunting lebak pun sangat rendah, yaitu hanya sebesar 4,06%, jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan target nasional sebesar 14%,” papar Iwan.
Ke depan, kolaborasi akan sangat terbuka bagi semua pihak. Iwan berharap komitmen yang terjalin saat ini semakin luas jangkauannya.
“Lebih banyak yang tergabung, maka akan berdampak semakin baik manfaatnya bagi masyarakat,” katanya.(Den)







