Kabupaten Lebak – Demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Lebak, Banten, sepanjang Januari hingga Oktober 2025 tercatat telah menjangkit 857 orang. Dari ratusan yang terjangkit, dua diantaranya dilaporkan meninggal.
Dinas Kesehatan (Dinkes) mengimbau warga mengaktifkan juru pemantau jentik (Jumantik) dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinkes Lebak Endang Komarudin mengatakan, dua langkah tersebut efektif dalam mencegah perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
“Mengaktifkan gerakan 3M (Menguras, Menutup, dan Mengubur) barang-barang yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Kemudianb penaburan abate pada bak penampungan air juga efektif,” kata Endang.
Kata dia, PSN plus 3M terbukti lebih efektif dan murah untuk memutus mata rantai penularan DBD.
“Di samping itu masyarakat juga harus rajin menjaga kebersihan lingkungan dan membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),” ujarnya.
Endang menjelaskan, curah hujan tinggi berpotensi mempercepat perkembangan populasi nyamuk yang berkembang biak di genangan air pada barang bekas seperti kaleng, ember, bak mandi, dan pot bunga.
“Biasanya, populasi nyamuk tersebut berkembang biak pada genangan air di barang-barang bekas, seperti kaleng, bak, ember, pot bunga, dan lainnya,” terang Endang.
Berdasarkan data, lanjut Endang, kasus DBD terbanyak tercatat berada di Puskemas wilayah perkotaan yakni Kecamatan Rangkasbitung 107 kasus, kemudian Puskesmas Malingping 74 kasus dan Maja 50 kasus.
“Dari total 43 puskesmas di Kabupaten Lebak, hanya Puskesmas Cirinten yang tercatat tanpa kasus DBD,” katanya.(Den)








