WEME-Siswa SMA Negeri 2 Rangkasbitung mengikuti simulasi pemilihan dengan sistem e-Voting yang dibuat Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, pada Rabu, 15 April 2026.
Simulasi dengan menggunakan perangkat elektronik merupakan bagian dari sosialisasi pendidikan pemilih KPU Lebak kepada siswa sebagai pemilih pemula.
Seperti halnya pemilihan konvensional, dalam simulasi tersebut siswa sebagai calon pemilih menunggu giliran menentukan pilihan ke bilik e-Voting yang disediakan. Di dalam bilik sudah disiapkan perangkat elektronik berupa laptop, printer mini yang mencetak kertas berisi nama calon yang dipilih untuk dimasukkan ke dalam kotak.
Pemilih yang telah menyalurkan hak pilihnya diminta mencelupkan jarinya ke tinta sebagai bukti telah memilih.
“Mirip dengan penyelenggaraan pemilihan seperti biasa, hanya pemilih tidak diberi surat suara atau alat penunjang lainnya. Dengan e-Voting mereka diberikan nomor ID untuk diinput lalu muncul gambar calon yang akan dipilih,” kata Komisioner KPU Lebak, Ade Jurkoni.
Kata Ade, e-Voting merupakan alat yang dibuat oleh KPU Lebak sebagai sarana sosialiasi kepada masyarakat, khususnya siswa. Sistem pemilihan ini dikenalkan juga karena adanya masukan masyarakat.
“Karena bukan tidak mungkin ya ke depan pemilihan di Indonesia akan menerapkan sistem ini. Jadi ketika itu diterapkan, masyarakat sudah tidak kaget lagi,” ucapnya.
Serina, salah seorang siswa kelas XI yang ikut simulasi mengaku suka jika pemilihan menggunakan e-Voting. Menurutnya, sistem tersebut lebih memudahkan dan efisien.
“Lebih mempersingkat waktu, gampang dan hasilnya juga langsung keluar. Dari pas masuk bilik sampai celup tinta cuma sekitar dua menit,” kata Serina.
Serina mengatakan, sistem e-Voting sudah diterapkan di lingkungan sekolahnya untuk memilih Ketua OSIS. Dirinya mengaku akan memberikan hak suaranya pada Pemilu mendatang.
“Iya tahun 2024 kan belum bisa, tapi 2029 nanti pasti dong ikut memilih,” katanya.(Def)








